Powered by Blogger.

Wanita Amerika Dibunuh di Ubud

Penulis: Gde Aryantha Soethama
Penerbit: Arti Foundation
Tebal:
Cetakan Pertama:
ISBN:
Harga:

Seorang wanita warga negara Amerika Serikat tewas di Ubud, Bali, sebuah tempat peristirahatan yang tersohor ke seantero dunia. Ia dibunuh di sebuah tempat yang dikaguminya sebagai pulau kahyangan, tempat dewa dewi bersemayam. Pulau yang diyakini tak pernah menyimpan peristiwa keji dan kekerasan berdarah. Kepada teman kencannya, seorang wartawan, lelaki Bali, si wanita berpesan, kelak jika ia mati, mayatnya agar diaben, diupacarai secara Hindu dan adat Bali.

Tapi, apakah mayat bukan pemeluk Hindu, bukan manusia Bali, boleh diaben? Persyaratan apa harus dipenuhi oleh jazad itu agar ia sah diaben? Adakah sulinggih (pendeta) yang sudi membereskan upacara itu?

Untung ada Pedanda Gambuh yang bersedia menyelesaikannya. Ujarnya, "Jika semakin banyak orang asing yang ingin diaben, artinya mereka merasakan Hindu memberi jalan kedamaian menuju peristirahatan terakhir."

Novel ini memikat karena keberhasilan pengarang meramu turisme, seks, cinta sesaat, melalui pergulatan pandangan adat dan agama tokoh-tokohnya. Pandangan ihwal turisme, misalnya, yang selain menumpahkan dollar, juga menyuguhkan malapetaka. Kepolisian jadi lebih sibuk dan pekerjaannya kian rumit menangani sindikat narkotika. Belum lagi pencurian di hotel-hotel yang modus operandinya semakin canggih. Pariwisata memberi dollar, tetapi untuk itu pula kita harus merogoh kocek menangkal pengaruh buruk yang dibawa turis. Kita harus mengeluarkan cukup banyak uang buat menjaga agar anak-anak kita tak dijangkiti gaya hidup Barat.

Perdebatan-perdebatan kritis dalam novel ini, sesungguhnya adalah pergulatan, dilema, dan kecemasan, yang tetap jadi perbincangan hangat dan serius sehari-hari orang-orang Bali, hingga kini.